Tuesday, October 9, 2018

PRESS Release Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP HNSI



RMOL. Rencana pemerintah untuk kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat nelayan kecil kian was-was.


Koordinator Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru menyampaikan, harapan nelayan Indonesia, kiranya BBM bagi nelayan tetap terpenuhi dengan harga yang tidak ikut-ikutan naik.

"Mengingat kondisi perekonomian dunia dan Indonesia yang sedang tidak stabil, hendaknya ada kebijakan yang tetap melindungi nelayan. Seperti tidak mencabut subsidi bagi nelayan kecil serta tidak menaikkan harga BBM khusus nelayan. Jadi, please jangan dipersulit nelayan Indonesia,” tutur Siswaryudi melalui rilis yang diterima di Jakarta, Rabu (10/10).

Menurut pria yang juga ketua Maritim dan Nelayan Projo ini, fluktuasi harga Dolar Amerika yang mempengaruhi berbagai sektor, termasuk BBM, hendaknya mampu diatasi dengan tidak menjadikan nelayan kian berkorban banyak. Perlindungan atau langkah memperkuat kehidupan nelayan harus tetap dilakukan.

"Apalagi saat ini Indonesia banyak diterpa gelombang yang tidak biasa. Gempa dan bencana yang membuat nelayan kita berhenti melaut. Maka perlu langkah strategis untuk tetap melindungi nelayan," tutur wakil bendahara umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Hati Nurani Rakyat (DPP Hanura) ini. 
Isu akan terjadinya lagi kenaikan harga BBM sudah kian santer. Sebagai langkah antisipasi, menurut dia, pemerintah mesti diberikan warning atau aba-aba bahwa nelayan jangan dipersulit. "Nelayan kecil kita harus tetap kita lindungi," pungkasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan hasil survei konsumennya pada Juli 2018 lalu. Dari hasil survei itu, tergambar adanya peningkatan tekanan kenaikan harga pada tiga bulan ke depannya, yakni sejak Oktober 2018.

Hal ini disebabkan kekhawatiran responden terhadap kenaikan harga BBM non-subsidi, yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan yang akan datang sebesar 172,7 meningkat dari 171,0 bulan sebelumnya.

"Secara spasial, peningkatan IEH 3 bulan mendatang terjadi di 10 kota, tertinggi di Surabaya,” papar BI dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/8) lalu.

Konsumen pun juga memperkirakan tekanan kenaika harga pada enam bulan mendatang, yakni Januari 2019. Hal ini disebabkan peningkatan permintaan pada periode tahun baru, terindikasi dari IEH enam bulan mendatang sebesar 178,3 lebih tinggi dari 173,2 bulan sebelumnya.[wid]


https://ekbis.rmol.co/read/2018/10/09/361075/Jika-Harga-BBM-Naik-Lagi,-Tolong..-Nelayan-Jangan-Dipersulit-